
Dengan tenang, panggilan itu berakhir, tetapi tangan gadis itu masih gemetar saat ia duduk di atas jalan masuk batu yang dingin. Di depannya, ibu mertua kaya itu masih berdiri, namun perlahan kesombongan di wajahnya mulai menghilang.
“Siapa yang kau telepon?” tanya wanita itu, berusaha terdengar berani.
Gadis itu tidak langsung menjawab. Perlahan ia mengambil tasnya, berusaha berdiri meski dadanya jelas terasa sakit, lalu menatap lurus ke depan.
“Saya tidak akan melawan Anda,” katanya pelan. “Tapi bukan berarti saya tidak punya orang yang membela saya.”
Ibu mertua itu mendengus. “Membela? Dengan penampilan sepertimu? Jangan mengancamku di depan rumahku sendiri.”
Air mata menggenang di mata gadis itu, tetapi ia tidak menunduk.
“Saya tidak mengancam. Saya hanya mengatakan kebenaran.”
Belum lama kemudian, terdengar deru mesin keras dari arah tikungan. Beberapa mobil hitam berhenti berurutan di depan mansion. Pintu-pintu terbuka. Para pria berpakaian jas hitam keluar, bergerak diam namun penuh wibawa.
Wajah ibu mertua itu membeku.
“Apa ini?” bisiknya.
Dari mobil di tengah, turun ayah gadis itu. Pakaiannya rapi, tatapannya dingin, dan setiap langkahnya di jalan masuk terasa seperti sebuah vonis.
Wanita kaya itu mundur selangkah.
“Kau…” ucapnya terbata.
Pria itu mendekati putrinya dan langsung memegang bahunya.
“Nak, bagian mana yang sakit?”
Gadis itu menjawab pelan, “Di sini, Pa… tapi aku baik-baik saja.”
Wajah sang ayah semakin gelap.
“Tidak. Ini tidak baik-baik saja.”
Nada ibu mertua itu langsung berubah.
“Tunggu dulu, ini hanya salah paham. Saya tidak tahu dia anakmu.”
Ayah gadis itu menatapnya dengan dingin dan perlahan.
“Jadi kau menyakitinya karena kau pikir dia tidak punya nama?”
Bibir wanita itu bergetar.
“Bukan begitu maksud saya.”
Ayah gadis itu melangkah mendekat.
“Kalau dia miskin, kau boleh menendangnya? Kalau dia diam, kau boleh menginjak harga dirinya?”
Ibu mertua itu menelan ludah.
“Saya hanya marah. Saya seorang ibu. Saya hanya melindungi keluarga saya.”
Ayah gadis itu tertawa pelan, tanpa kebahagiaan.
“Keluarga? Kau menyebut dirimu keluarga saat kau menendang calon istri anakmu?”
Ibu mertua itu menoleh kepada para pembantu dan penjaga yang diam-diam menyaksikan semuanya. Tidak satu pun dari mereka memihak padanya.
Dari dalam rumah, putranya keluar dengan wajah pucat, jelas telah mendengar keributan itu.
“Ma… apa yang Mama lakukan?” tanyanya dengan suara gemetar.
Ia segera berlari ke arah gadis itu.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu dia akan menemuimu di sini.”
Gadis itu menatapnya dengan penuh luka.
“Bukan kamu yang menendangku. Tapi kamu membiarkan ibumu berpikir bahwa dia bisa menginjak-injakku.”
Pria itu menunduk.
“Aku akan memperbaiki semuanya.”
Ibu mertua itu menyela, “Nak, jangan bodoh! Dia tidak pantas untuk keluarga kita!”
Pria itu tiba-tiba menoleh, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah.
“Cukup, Ma! Dia wanita yang aku cintai. Dan sekarang aku baru melihat siapa sebenarnya yang tidak pantas berada dalam keluarga ini.”
Ayah gadis itu kembali mendekati ibu mertua kaya tersebut. Ia tidak berteriak, tetapi dinginnya suaranya justru lebih menakutkan.
“Mulai sekarang, semua yang kau lakukan akan terbongkar. Semua hinaanmu, kekerasanmu, dan seluruh kesombonganmu yang selama ini kau sembunyikan di balik emas dan perhiasan.”
Wanita itu berlutut karena ketakutan.
“Tolong maafkan saya. Saya salah. Jangan permalukan saya.”
Gadis itu menatapnya, tenang meski berlinang air mata.
“Saya tidak perlu mempermalukan Anda. Anda sudah melakukannya sendiri.”
Ayahnya memeluk putrinya, lalu perlahan menuntunnya pergi.
Di belakang mereka, ibu mertua itu tetap berlutut di tengah jalan masuk mansion yang mewah, sementara gerbang yang dulu sunyi kini dipenuhi bisikan, ketakutan, dan penyesalan.





