
Seluruh ballroom terdiam saat Bea berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar dan ia tak mampu menatap Marco secara langsung. Marco masih memegang ponsel Liza, dan rekaman jelas tentang sebuah tangan yang menjatuhkan pil putih ke dalam gelas jus jeruk terus berputar di pikirannya. Musik lembut, tepuk tangan, dan tawa para tamu yang sebelumnya memenuhi ruangan kini tergantikan oleh keheningan yang dingin. Marco melangkah perlahan mendekati Bea. Ia tidak berteriak, tetapi ketenangan di wajahnya justru terasa lebih menakutkan. “Kenapa, Bea?” tanyanya dengan suara rendah. “Di hari pernikahan kita… kenapa kamu melakukan ini?”
Bea mundur selangkah, seperti anak kecil yang tertangkap melakukan kesalahan. Ia memaksakan senyum, tetapi suaranya pecah. “Bukan aku, Marco. Mungkin dia sengaja ingin menjebakku.” Ia menunjuk Liza, tetapi kesombongannya yang dulu sudah tak memiliki kekuatan lagi. Liza, dengan pipi yang masih memerah akibat tamparan, berdiri diam di sisi ruangan. Ia gemetar, tetapi tidak mundur. “Aku tidak ingin menghancurkan kalian,” katanya hampir berbisik. “Aku hanya melihat apa yang terjadi. Kalau aku diam saja, mungkin kamu sudah tidak ada sekarang.” Marco menunduk, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap gelang di tangan Bea.
Tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari barisan tamu. Ia adalah ibu Marco, Bu Carmen, yang sejak tadi menangis dalam diam. Ia memegang lengan putranya dan berkata pelan namun tegas, “Nak, jangan biarkan cinta menutupi kebenaran.” Bea menatapnya dengan penuh takut dan marah. “Tante, kalian tidak mengerti!” teriaknya. Namun sebelum ia bisa melanjutkan, seorang tamu pria berbicara dari belakang. “Aku juga melihat sesuatu,” katanya sambil mengeluarkan ponselnya sendiri. “Sejak tadi aku merekam acara ini. Aku juga mendapatkan apa yang dia lakukan.”
Wajah Bea semakin pucat ketika pria itu memperlihatkan video lain. Dari sudut yang lebih lebar, terlihat jelas Bea menoleh ke sekitar sebelum diam-diam mendekatkan tangannya ke gelas Marco. Meski wajahnya tidak terlihat sepenuhnya jelas, gaun, gelang, dan gerak-geriknya tampak sangat jelas. Marco menelan ludah, dan matanya dipenuhi rasa sakit. Ini bukan lagi sekadar dugaan. Bukan lagi kesalahpahaman. Kenyataannya, wanita yang hampir menjadi istrinya telah mencoba melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia maafkan. “Panggil polisi,” perintahnya dingin kepada petugas keamanan.
Saat itu Bea benar-benar hancur. Ia berlutut di depan Marco, menggenggam ujung celananya, dan menangis tersedu-sedu. “Marco, aku mencintaimu! Aku hanya takut! Aku pikir kamu akan meninggalkanku kalau kamu tahu semuanya!” Dahi Marco berkerut. “Semuanya apa?” tanyanya. Bea menatap orang tuanya yang duduk di meja seberang, keduanya tampak pucat. “Keluargaku punya banyak utang,” tangisnya. “Mereka memakai pernikahan ini untuk mendapatkan uangmu. Tapi saat kamu bilang ingin menandatangani perjanjian pranikah setelah bulan madu, mereka panik. Aku juga takut. Mereka bilang kalau kamu tidak ada, semuanya akan jatuh ke tanganku.”
Desahan keras menyebar ke seluruh ballroom. Ibu Marco memegang dadanya, sementara ayah Bea tiba-tiba mengalihkan pandangan. Petugas keamanan mendekat dan menahan Bea ketika ia mencoba melarikan diri. Marco tetap berdiri seperti batu, tetapi kehancuran terlihat jelas di matanya. Perlahan ia mendekati Liza. “Kenapa kamu mempertaruhkan dirimu sendiri demi aku?” tanyanya. Liza menangis. “Karena aku melihat apa yang mereka lakukan. Dan karena tidak ada seorang pun yang pantas mati di hari yang seharusnya dipenuhi cinta.” Sesaat Marco terdiam sebelum berkata pelan, “Kamu menyelamatkanku.”
Ketika polisi datang, Bea tidak lagi melawan. Wanita yang sebelumnya menjadi ratu malam itu dibawa keluar dari ballroom dengan gaun putihnya masih melekat di tubuh, tetapi cahaya di wajahnya telah hilang. Para tamu membuka jalan dalam diam. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada yang bicara. Marco tertinggal di tengah ruangan, menggenggam mimpi yang hancur, mimpi yang beberapa menit sebelumnya masih ia sebut sebagai masa depan. Liza mendekat untuk mengembalikan ponsel, tetapi Marco menghentikannya. “Aku tidak akan pernah melupakan apa yang kamu lakukan,” katanya. Di saat terakhir, Marco menatap altar yang penuh bunga, lalu menatap pecahan gelas di lantai. Pernikahan itu telah berakhir, tetapi kebenaranlah yang menyelamatkan hidupnya.






