
Telepon itu hampir terlepas dari tangan Antonio. Suara dokter masih terdengar di ujung sana, rendah namun tegas, tetapi kata-katanya sudah cukup membuat seluruh tubuhnya membeku. Ia menatap perempuan muda yang masih berlutut di lantai, wajahnya pucat, napasnya pendek, satu tangan melindungi perutnya sementara tangan lain gemetar di dekat pecahan kaca. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu berbicara seperti raja di rumah itu kehilangan keberanian untuk mengangkat suara. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kalimat yang keluar. Hanya matanya yang berubah—dari jijik menjadi takut, dari dingin menjadi hancur.
Ibu mertua yang duduk di sampingnya mulai gelisah. “Ada apa?” bisiknya, tetapi Antonio tidak menjawab. Ia perlahan berdiri, kursinya bergeser kasar di atas lantai marmer. Semua orang menahan napas. Perempuan muda itu mencoba bangun, namun tubuhnya terlalu lemah. Saat ia hampir jatuh ke samping, Antonio tiba-tiba melangkah cepat dan menangkap lengannya. Sentuhan itu membuat seluruh keluarga terkejut. Selama ini, ia tidak pernah sekali pun menyentuh menantunya dengan rasa hormat. Namun kali ini, tangannya gemetar seperti orang yang baru menyadari bahwa ia hampir menghancurkan sesuatu yang tak ternilai.
“Jangan bergerak,” ucap Antonio pelan. Suaranya pecah. Ia menoleh ke semua orang di meja makan, wajahnya memerah oleh rasa malu yang tidak mampu ia sembunyikan. “Panggil dokter. Sekarang.” Tidak ada yang berani membantah. Seorang anggota keluarga segera berdiri dengan panik, yang lain mulai menyingkirkan pecahan kaca. Perempuan muda itu memandangnya dengan mata berkaca-kaca, bukan karena tersentuh, tetapi karena terlalu lelah untuk memahami perubahan yang begitu tiba-tiba. Antonio berlutut di hadapannya, tepat di lantai yang beberapa detik lalu ia suruh untuk dibersihkan. Untuk pertama kalinya, posisi mereka terbalik.
Ketika ambulans pribadi keluarga tiba, Antonio sendiri yang membungkus kaki menantunya dengan kain bersih agar tidak terkena pecahan kaca. Di depan seluruh keluarganya, ia berkata lirih, “Maafkan saya.” Kalimat itu membuat ruangan semakin sunyi. Menantunya tidak menjawab. Ia hanya menutup mata, menahan sakit, sementara air mata mengalir pelan di pipinya. Di rumah sakit, Antonio berdiri di luar ruang pemeriksaan seperti orang yang menunggu hukuman. Setiap detik terasa menghancurkannya. Dokter keluar dengan wajah serius dan berkata bahwa keterlambatan sedikit saja bisa membahayakan ibu dan bayi. Antonio menunduk, seolah seluruh kekayaannya tidak berarti apa-apa.
Beberapa hari kemudian, meja makan yang sama kembali dipenuhi keluarga. Tetapi kali ini tidak ada yang berani duduk lebih dulu sebelum perempuan muda itu datang. Antonio berdiri ketika ia masuk, masih lemah, tetapi lebih tenang. Kursi utama yang dulu hanya miliknya kini ia tarik untuk menantunya. “Mulai hari ini,” katanya dengan suara berat, “tidak ada seorang pun yang boleh memperlakukannya seperti pelayan di rumah ini.” Semua orang tertunduk. Menantunya menatapnya lama, lalu meletakkan tangan di perutnya. Ia belum memaafkan sepenuhnya, dan Antonio tahu itu. Namun saat bayi di dalam kandungannya bergerak pelan, wajah Antonio runtuh dalam penyesalan. Ia sadar, hukuman terbesarnya bukan kemarahan siapa pun, melainkan kenyataan bahwa ia hampir kehilangan keluarga yang seharusnya ia lindungi.






