
Tangan tuan rumah itu gemetar saat memegang jam saku tua tersebut. Ia menatap foto kecil di dalamnya, lalu menatap wajah gadis kecil yang masih bersembunyi di pelukan pembantu muda. Selama beberapa detik, tidak ada suara apa pun di dapur itu selain napas yang tertahan. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini hancur oleh rasa takut dan penyesalan. Dengan suara serak, ia bertanya pelan, “Dari mana kamu mendapatkan jam ini?” Gadis kecil itu semakin memeluk pembantu, takut jam itu akan dirampas darinya.
Pembantu muda memberanikan diri menatap tuannya. “Tuan… jangan marahi dia,” ucapnya lirih. “Dia hanya lapar.” Tapi pria itu seolah tidak mendengar. Matanya tetap terpaku pada jam saku itu. Gadis kecil itu akhirnya menjawab dengan suara gemetar, “Itu punya ibuku. Dia bilang aku harus menjaganya… kalau suatu hari aku tersesat.” Kata-kata itu membuat wajah sang tuan semakin pucat. Ia menutup matanya sejenak, seperti sedang menahan luka lama yang tiba-tiba terbuka kembali.
Ia membuka lagi penutup jam itu dan menyentuh foto wanita di dalamnya dengan ujung jarinya. “Namanya Ratna,” bisiknya. “Dia adalah wanita yang sangat kucintai.” Pembantu muda terkejut, sementara gadis kecil itu menatapnya dengan bingung. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. “Mereka bilang dia pergi meninggalkanku. Mereka bilang tidak ada anak yang lahir.” Suaranya pecah. “Selama bertahun-tahun aku percaya kebohongan itu.” Gadis kecil itu tidak mengerti semuanya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berat di balik air mata pria itu.
Sang tuan perlahan berlutut di lantai dapur yang masih basah oleh sup. Jas mahalnya menyentuh lantai kotor, tetapi ia tidak peduli. Ia mengambil mangkuk baru dengan tangan gemetar, lalu meminta pembantu mengisinya lagi dengan sup hangat. Kali ini, ia meletakkan mangkuk itu sendiri di atas meja kecil di depan gadis itu. “Makanlah,” katanya dengan suara hampir berbisik. “Tidak ada seorang pun yang akan membuang makananmu lagi.” Gadis kecil itu menatap mangkuk itu, lalu menatap pria di hadapannya, masih takut untuk percaya.
Pembantu muda tetap berdiri di samping gadis kecil itu, siap melindunginya jika pria itu berubah lagi. Namun pria itu hanya menundukkan kepala, air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan. Gadis kecil itu perlahan mengambil sendok dengan kedua tangan. Sebelum makan, ia bertanya dengan suara kecil, “Apa Tuan mengenal ibuku?” Pria itu mengangkat wajahnya, hancur sepenuhnya oleh penyesalan. Ia menatap jam saku itu, lalu menatap anak kecil di depannya. Dengan suara patah, ia menjawab, “Aku bukan hanya mengenal ibumu… aku adalah ayahmu.” Sendok di tangan gadis itu berhenti bergerak, dan seluruh dapur kembali tenggelam dalam keheningan.






