
Nyonya rumah itu berdiri membeku di tengah aula, tangannya kosong, wajahnya pucat, dan matanya terpaku pada dokumen yang berserakan di atas meja. Para tamu yang tadi berbisik dengan senyum mengejek kini mundur perlahan, seolah takut ikut terseret oleh semua bukti yang baru terbuka. Polisi mengambil beberapa lembar foto dan rekaman tertulis, lalu saling bertukar pandang dengan wajah serius. Pembantu muda itu tetap berdiri tegak, dadanya naik turun menahan emosi, tetapi suaranya tidak bergetar. Untuk pertama kalinya, di ruangan penuh orang kaya itu, para pelayan tidak lagi menundukkan kepala.
Nyonya rumah mencoba tertawa kecil, tetapi suara itu pecah di tenggorokannya. “Ini hanya salah paham,” katanya terbata-bata. Tidak ada yang percaya. Salah satu polisi melangkah mendekat dan berkata dengan tegas, “Kami sudah menerima laporan berkali-kali. Hari ini kami datang dengan bukti.” Kata-kata itu membuat wajahnya semakin kehilangan warna. Ia menoleh ke arah para tamu, mencari pembelaan, tetapi semua orang menghindari tatapannya. Kemewahan gaun, perhiasan, dan pesta besar itu tiba-tiba tidak berarti apa-apa di hadapan kebenaran yang terbuka di depan semua orang.
Pembantu muda itu berjalan menuju nenek tua yang masih duduk lemah di lantai. Ia berlutut, memegang tangan keriput itu dengan hati-hati, lalu membantunya berdiri. Beberapa pembantu lain akhirnya bergerak maju, menahan tangis, membantu membersihkan air kotor dari seragam nenek itu. Nenek tua itu mencoba tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. “Nak… kenapa kamu berani melakukan ini?” bisiknya pelan. Pembantu muda itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Karena Ibu sudah terlalu lama disuruh diam,” jawabnya. Ucapan itu membuat para pembantu lain menangis dalam diam.
Polisi kemudian meminta nyonya rumah ikut bersama mereka untuk dimintai keterangan. Ia langsung panik. “Tidak! Kalian tidak bisa mempermalukan saya di depan tamu-tamu saya!” teriaknya, tetapi suaranya tidak lagi terdengar berkuasa. Justru terdengar seperti ketakutan. Seorang tamu laki-laki yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, “Yang mempermalukan dirimu bukan polisi. Kelakuanmu sendiri.” Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada pecahan gelas di lantai. Ia menatap semua wajah di sekelilingnya dan baru menyadari bahwa pesta yang ia banggakan telah berubah menjadi saksi kehancuran dirinya.
Saat ia dibawa melewati meja jamuan, sepatu mahalnya menginjak genangan anggur merah yang tadi tumpah di lantai. Kilau chandelier masih bersinar indah, tetapi tidak ada lagi yang melihatnya dengan kagum. Semua mata tertuju pada nenek tua yang kini berdiri di antara para pembantu lain, lemah namun tidak lagi sendirian. Pembantu muda itu memeluknya pelan dan berkata, “Mulai malam ini, tidak ada lagi yang boleh menyakiti kita.” Pintu aula terbuka, udara malam masuk membawa keheningan dingin, dan nyonya rumah menoleh sekali lagi dengan wajah hancur. Di belakangnya, pesta mewah itu berakhir bukan dengan musik, tetapi dengan rasa malu yang tak akan pernah bisa ia sembunyikan.






