
Ibu kaya itu tetap berdiri membeku, matanya tidak bisa lepas dari tanda lahir berbentuk bulan sabit merah di lengan anak laki-laki itu. Wajahnya yang tadi penuh jijik kini berubah pucat seperti kehilangan seluruh kekuatan. Anak perempuannya menatapnya dengan bingung, lalu menatap anak laki-laki di tanah. “Bu… kenapa Ibu takut?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu seperti menusuk dada wanita itu. Ia mencoba membuka mulut, tetapi suaranya tercekat. Semua orang di sekitar gerbang sekolah ikut diam, seolah udara berhenti bergerak.
Dengan langkah gemetar, wanita itu mendekati anak laki-laki itu. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kesombongan di wajahnya. Ia berlutut perlahan di depan anak itu, mengabaikan trotoar yang kotor dan tatapan orang-orang kaya di sekitarnya. Anak laki-laki itu mundur sedikit karena takut, memeluk tubuhnya sendiri. Wanita itu menatap tanda lahir itu sekali lagi, lalu berbisik dengan suara pecah, “Tanda itu… sama persis.” Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam udara kosong, seolah ingin menyentuh anak itu, tetapi tidak berani.
Anak laki-laki itu menatapnya dengan wajah penuh air mata. “Saya tidak mencuri apa-apa… saya hanya lapar,” ucapnya lirih. Kalimat itu membuat wanita itu semakin hancur. Ia menoleh ke sandwich yang jatuh di tanah, lalu kembali menatap anak itu. Rasa jijik yang tadi memenuhi dirinya kini berubah menjadi rasa bersalah yang menampar lebih keras daripada kata-kata siapa pun. Ia berbisik, “Siapa nama ibumu?” Anak laki-laki itu menunduk, lalu menjawab pelan, “Saya tidak punya ibu. Orang panti bilang saya ditemukan waktu bayi.”
Wajah wanita itu langsung runtuh. Tangannya menutup mulutnya, dan air matanya akhirnya jatuh. Anak perempuannya ikut menangis tanpa benar-benar mengerti. Wanita itu perlahan mengeluarkan ponsel dari tas mahalnya, tangannya gemetar hebat. Ia menekan nomor seseorang dan berbicara dengan suara hampir tidak terdengar, “Cari berkas lama itu sekarang. Anak laki-laki dengan tanda bulan sabit merah… dia masih hidup.” Di ujung kalimat itu, tubuhnya hampir limbung. Ia menatap anak laki-laki itu lagi, kali ini bukan sebagai orang miskin, bukan sebagai pengemis, tetapi sebagai rahasia yang selama bertahun-tahun dikubur terlalu dalam.
Beberapa guru dan staf sekolah mulai mendekat, tetapi tidak ada yang berani menyela. Wanita itu menundukkan kepala di depan anak laki-laki itu, suaranya pecah saat berkata, “Maafkan saya… saya tidak tahu.” Anak laki-laki itu hanya menatapnya, masih takut, masih memegangi lengannya. Anak perempuannya mengambil sandwich baru dari tas makan siangnya dan meletakkannya pelan di depan anak itu. Wanita kaya itu tidak lagi mampu berdiri tegak. Kamera mendekat ke wajahnya yang penuh penyesalan, sementara ia berbisik dengan napas gemetar, “Kalau benar kamu anak itu… aku telah menghancurkan darah dagingku sendiri.” Suasana sekolah tenggelam dalam keheningan berat.






