
Seluruh ruang VIP membeku setelah wanita muda itu mendekatkan dokumen ke wajah ibu mempelai pria. Wanita yang tadi masih mengangkat kepala dengan penuh kesombongan dan hinaan itu mendadak tidak bisa berkata-kata. Ia menatap kertas itu, lalu menatap ibu sederhana yang wajahnya masih basah karena air yang baru saja ia siramkan sendiri. “Tidak… ini mustahil,” bisiknya, bibirnya gemetar. Namun wanita muda itu tidak mundur. Ia justru mendekatkan dokumen itu lagi dan berkata dengan suara dingin, “Mustahil? Ini sertifikat mansion kalian. Ini kontrak perusahaan kalian. Dan ini daftar utang yang selama ini kalian sembunyikan dari semua orang.”
Wajah mempelai pria menjadi pucat. Ia cepat-cepat mengambil dokumen itu, tetapi begitu membaca nama pihak yang mereka utangi, ia hampir menjatuhkannya. Nama itu adalah nama wanita yang baru saja disiram air oleh ibunya. Ibu miskin yang selama ini duduk diam di sudut ternyata bukan wanita tak berharga. Dialah orang yang menahan kejatuhan bisnis mereka, yang membayar utang perusahaan mereka, dan alasan sebenarnya mansion yang mereka banggakan belum disita. “Bu…” kata mempelai pria dengan suara gemetar. “Ini benar? Kita berutang semuanya pada mereka?”
Ibu mempelai pria masih berusaha keras mempertahankan harga dirinya. “Kalian tidak mengerti,” katanya, mencoba merapikan diri meski rasa takut jelas terlihat. “Itu hanya urusan bisnis. Hanya pengaturan sementara.” Namun untuk pertama kalinya, ibu sederhana itu berbicara. Suaranya pelan, tetapi jelas dan berat. “Sementara? Sepuluh tahun saya diam sementara kalian menggunakan uang saya, sementara kalian membanggakan rumah yang sebenarnya sudah diagunkan atas nama saya, sementara kalian menyebut saya miskin di depan anak saya.” Air mata jatuh di pipinya, bercampur dengan air yang tadi disiramkan ke wajahnya. “Dulu saya diam karena saya tidak ingin anak saya dipermalukan. Tapi hari ini, kalian sendiri yang mempermalukannya.”
Wanita muda itu menatap mempelai pria dengan mata dingin. “Dan kamu?” tanyanya. “Kamu melihat ibuku disiram air. Kamu mendengar dia disebut memalukan. Tapi kamu diam.” Mempelai pria tidak mampu menjawab. Pria yang seharusnya menjadi suaminya hanya duduk seperti anak kecil di samping ibunya, tidak punya keberanian untuk membela wanita yang akan ia nikahi. Perlahan, wanita muda itu melepas cincin pertunangannya dan meletakkannya di atas taplak meja yang basah, di tengah pecahan piring dan tumpahan anggur merah. “Aku tidak bisa menikahi pria yang tidak punya suara saat ibuku dihina.”
Keberanian ibu mempelai pria tiba-tiba runtuh. Ia mendekati ibu sederhana itu dengan tangan gemetar. “Maafkan saya… saya tidak tahu kalau kalian ternyata—” Namun wanita muda itu memotongnya. “Anda tidak perlu tahu siapa seseorang untuk menghormatinya.” Semua orang terdiam. Ibu sederhana itu perlahan berdiri, bajunya basah, matanya merah, tetapi kepalanya tetap terangkat. Pada saat itu, ia terlihat jauh lebih bermartabat daripada semua orang berperhiasan di ruangan itu. Wanita muda itu menatap ibu mempelai pria untuk terakhir kalinya dan berkata, “Mulai sekarang, yang akan kita bicarakan bukan lagi pernikahan. Tapi pelunasan utang.”
Dari luar ruang VIP, terdengar langkah cepat orang-orang dari koridor restoran. Pengacara ibu sederhana itu datang, membawa kontrak asli dan surat pemberitahuan gagal bayar. Ibu mempelai pria mundur, hampir kehilangan kekuatan di kakinya. Mansion, perusahaan, dan semua kekayaan yang ia banggakan ternyata tertulis di atas kertas milik wanita yang baru saja ia sebut memalukan. Kamera menutup rapat pada wajahnya yang ketakutan saat ia menatap ibu sederhana yang berdiri di depannya. Di saat itulah ia mengerti bahwa air yang ia siramkan tadi bukan hanya penghinaan bagi orang lain — itu adalah awal runtuhnya seluruh keluarga yang ia bangun di atas kesombongan, utang, dan kebohongan.






